This is the catalogue of our paintings for practical exams.
Made with our heart, Shown to you with our smiles.
This is part of Scitomode's memory.
Nasi tempong adalah salah satu makanan tradisional yang berasal dari Banyuwangi. Makanan ini disajikan dengan berbagai lauk pauk, lalapan dan sambal yang khas. Nama nasi tempong berasal dari kata "tempong"yang dalam bahasa osing berarti “tampar”. Makanan ini dinamakan demikian karena memang ciri khas dari nasi tempong ini adalah sambalnya yang pedas. Awalnya Nasi Tempong merupakan bekal yang dibawa oleh masyarakat Banyuwangi ke sawah untuk menambah tenaga bagi para petani yang sedang berkerja di sawah..
Monumen ini sebagai bentuk mengenang para pahlawan yang berjuang melawan penjajahan bersenjatakan bambu runcing.
Karya ini menggambarkan suasana bermain bersama teman saat masa-masa belum mengenal smartphone, saat semua masih bernuansa tradisional dan serba kebersamaan mengingatkan kita saat masa kecil bermain bersama-sama.
Sebuah lukisan yang menunjukkan apa saja camilan dari Jawa timur. Dengan menghadirkan beberapa camilan Jawa Timur seperti Brem, Opak, Onde-onde dan Madumngso. Camilan-camilan ini menggambarkan variasi dan banyaknya camilan dari Jawa Timur
Kue dadar gulung merupakan makanan khas Indonesia yang dapat digolongkan sebagai panekuk yang diisi dengan parutan kelapa yang dicampur dengan gula jawa cair. Isi ini disebut unti. Kulit dadar gulung identik dengan warna hijau karena diberi pewarna daun suji. Kulit dadar gulung yang berbentuk seperti telur dadar menjadi salah satu alasan mengapa makanan ini disebut kue dadar gulung.
Potret seorang penjual sate madura berlatar Jembatan Suramadu, di mana keduanya merupakan ikon khas Madura. Filosofi sate madura sendiri yaitu menyatukan setiap elemen dan disatukan. Daging yang terpotong dan ditusuk adalah sebuah perwujudan terhadap persatuan berbagai elemen agar menjadi satu kesatuan.
Bakul jamu tradisional dengan penjual buah, menggunakan pakaian khas Jawa Timur (Batik Lurik dan Batik Tulungagung) yang menunjukkan masa tradisional Surabaya masa kuno. Menyampaikan pesan bahwa kecantikan di masa muda tidak bersifat permanen. Seperti sang penjual buah yang masih muda ketika berpapasan dengan penjual jamu yang sudah tua. Perbedaan bentuk badan yang ketara menjadikan bukti bahwa kecantikan tidak bersifat permanen.
Filosofi warung jajanan pasar tradisional seringkali mencerminkan nilai-nilai seperti keramahtamahan, kebersamaan, keberagaman, dan kesederhanaan. Warung tersebut bukan hanya tempat untuk membeli makanan, tetapi juga menjadi tempat untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain dalam komunitas lokal. Kesederhanaan dalam penyajian makanan juga menjadi bagian penting dari filosofi ini, menekankan pada keaslian dan kelezatan makanan tradisional.
Masyarakat Tengger melakukan upacara ini untuk menghormati pengorbanan Kusuma dan pesan yang dibawanya. Warga kemudian menganggap Gunung Bromo adalah bagian alam yang suci dan telah menjadi sumber kehidupan bagi mereka. Sehingga ritual melemparkan persembahan ke Kawah Gunung Bromo juga sebagai penghormatan.
Kuda Lumping sebagai kesenian yang menarik dari Jawa Timur, membuat kuda lumping itu menunjukkan jati dirinya, menjadi lebih percaya diri, sebagai pusat perhatian dimanapun Kuda Lumping itu tampil, lebih menyala daripada kobaran api, dan menunjukkan semangat juang melalui tarian serta atraksinya.
Sebuah konsep yang menyoroti dinamika dan kehidupan sosial, menekankan nilai keberagaman dan kompleksitas kehidupan manusia, pentingnya hubungan sosial, perubahan cepat dalam kehidupan atau ketidakpastian, menciptakan kesan harmoni di tengah kekacauan.
Tari Seblang merupakan tarian khas suku Osing (Banyuwangi) yang sangat sakral. Tarian ini digunakan untuk menghilangkan bala dan penyakit dari orang yang dikelilingi oleh si penari. Karena itu, kepercayaan masyarakat yang kuat akan pengaruh roh dan magis dari alam membuat tarian ini ada sedemikiam rupa. Gejolak arwah yang kuat serta kepercayaan pada peran kompleks alam membuat tarian lestari hingga saat ini.
Menggambarkan perayaan tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Suro. Grebeg Suro memiliki tujuan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan terhadap kemakmuran yang diberikan kepada masyarakat, dan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Sayuran dan buah-buahan pada gunungan Grebeg Suro merupakan hasil bumi daerah tersebut yang melambangkan doa serta harapan para warga agar bisa mendapatkan keberkahan dari sedekah itu selama setahun ke depan. Masyarakat Jawa meyakini bahwa perebutan gunungan bisa mendatangkan berkah bagi warga yang mendapatkan.
Saya melukis Candi Jawi, sebagai warisan budaya, lukisan ini mengajarkan bahwa keindahan tak lepas dari keberagaman. Seperti relief dan arsitekturnya yang kompleks, kehidupan juga terbentuk dari lapisan-lapisan pengalaman yang saling melengkapi. Sebagaimana candi yang tegak kokoh, kebijaksanaan dan keberanian kita dapat menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan hidup yang kita jalani setiap hari.
Menggambarkan Tugu Pahlawan di malam hari yang penuh dengan bintang
Konon, nama Banyuwangi tercipta atas pembuktian cinta seorang wanita bernama Surati terhadap kekasihnya– Raden Banterang, yang menuduh dan meragukan rasa cintanya. Surati yang benar-benar mencintai Raden Banterang bahkan rela menjatuhkan dirinya ke sungai. Berkat kisah haru mereka lah, saya dapat mengabadikannya dalam torehan kuas di atas kanvas ini.
Representasi dari kehidupan sehari-hari, mitologi, dan nilai-nilai budaya Jawa Timur. Topeng yang digunakan mewakili karakter-karakter dalam cerita atau legenda, sementara gerakan-gerakan tari mengekspresikan berbagai emosi dan konflik yang ada dalam cerita tersebut. Tari ini seringkali mengandung pesan moral dan ajaran tentang kebaikan, keadilan, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
semanggi bisa diinterpretasikan sebagai perlambang persatuan, keberagaman, dan harmoni dalam perbedaan. Dan mengajarkan bahwa meskipun kita berbeda-beda seperti daun-daun semanggi, kita tetap bisa hidup berdampingan secara damai dan saling melengkapi.
Indonesia dikenal dengan keragamannya, tidak hanya dalam budaya tapi juga makanannya. Salah satu makanan yang biasa dijadikan “comfort food” masyarakat Indonesia ialah soto Lamongan. Sesuai namanya, soto Lamongan merupakan makanan khas Lamongan, Jawa Timur. Biasanya didalam soto ini terdapat suwiran daging ayam, irisan kol, tomat, daun bawang, mie bihun, dan irisan telur telur ayam.
Filosofi di balik tarian kuda lumping mencakup beragam aspek budaya dan spiritual. Kuda lumping tidak hanya sekadar tarian hiburan, tetapi juga memuat makna-makna yang lebih dalam. Salah satunya adalah simbolisme kekuatan dan keberanian, yang direpresentasikan melalui gerakan-gerakan energik dan dinamis dari para penari dan penunggang kuda lumping. Selain itu, tarian ini juga sering kali dihubungkan dengan upacara-upacara tradisional yang memiliki unsur magis dan spiritual, seperti dalam pengobatan tradisional atau sebagai bagian dari ritual keagamaan.
Tedhak Siten merupakan upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan, masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib.
Gapura dengan warna merah dan hijau dengan dua naga di atasnya menjadi pembeda di Jalan Kembang Jepun. Gapura yang terletak di sisi barat dan timur Kembang Jepun itu sebagai gerbang masuk dan keluar kawasan Pecinan di Surabaya.
Kue petulo merupakan kue khas Jawa Timur yang identik dengan warna-warna cerah. Hal ini dilakukan karena warna-warni yang cerah melambangkan suasana hati seseorang yang ceria.
Lukisan ini menggambarkan keindahan monumen Jalasveva Jayamahe yang megah dan berdiri kokoh di Perak, Surabaya, Jawa Timur. Cahaya matahari senja yang memancar dari belakang monumen memberikan nuansa dramatis dan menambahkan kedalaman visual yang memikat. Lukisan ini tidak sekadar merepresentasikan sebuah bangunan, melainkan itu adalah simbol dari kebesaran sejarah, keberanian, dan semangat kemerdekaan. Monumen Jalasveva Jayamahe merupakan perwujudan dari keberanian para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kehormatan bangsa. Lukisan ini ada, dengan harapan dapat mengundang penonton untuk merenungkan nilai-nilai kepahlawanan, patriotisme, dan semangat juang yang melekat dalam diri setiap anak bangsa, serta menginspirasi untuk terus memperjuangkan keadilan dan kebebasan.
Filosofi/konsep dari lukisan yang saya buat yang berjudul "Budaya Jawa Timur" yaitu menggambarkan bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki beragam kebudayaan yang unik, mulai dari tari, alat musik hingga kuliner yang harus selalu dijaga, dikembangkan, dilestarikan dan dirayakan keberagamannya dalam masyarakat. Melalui penggambaran ini juga, lukisan kebudayaan Jawa Timur tidak hanya menjadi ekspresi seni visual, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan filosofi-filosofi dan nilai-nilai yang mendalam dari budaya Jawa Timur yang kaya dan beragam.
Gerakan tari remo ini seperti gerakan gedrug atau gerakan menghentakan bumi adalah suatu simbol kesadaran manusia atas kehidupan yang ia jalankan di muka bumi
Tari Gandrung merupakan tari tradisional yang berasal dari suku Osing, Banyuwangi. Gandrung sendiri memiliki arti terpesona. Maksudnya masyarakat blambangan terpesona kepada Dewi Sri yaitu Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Dan air terjun yang menjadi latar belakang dari tari gandrung ini bermaksud bahwa keindahan alam Banyuwangi juga menjadi salah satu pesona terbaik Indonesia.
Thengul Bojonegoro, tarian yang mengalirkan cerita yang terpahat dalam irama jiwa. Terlukiskan warna cerah untuk menciptakan suasana hidup dan memikat yang dipadukan dengan ekspresi penari, sementara Kayangan Api sebagai simbol keberanian. Keduanya menciptakan harmoni antara kekuatan alam dan keanggunan manusia.
Indonesia memilik berbagai macam provinsi salah satunya adalah Jawa Timur. Jawa Timur sendiri memiliki salah satu makanan yang khas yaitu "Rujak Cingur" yang tepatnya berada di daerah tempat tinggal kita yaitu Surabaya. Hal yang unik disini adalah "cingur" yang berarti mulut atau moncong sapi yang digunakan sebagai bahan utama dalam menu makanan ini.
Karapan sapi merupakan salah satu budaya Madura yang hingga kini masih lestari. Dari lukisan Karapan Sapi, bisa dilihat bahwa orang Madura adalah pekerja keras. Pantang berdiam diri. Pengangguran bagi orang Madura adalah sampah. Jadi masyarakat Madura, bagaimana pun susahnya mencari uang, pantang berdiam diri. Entah itu sekadar membantu pekerjaan orang tua.
Rumah joglo adalah simbol kemakmuran dan kehormatan dari identitas budaya Jawa. Desainnya yang khas, dengan atap piramida yang tinggi mencerminkan filosofi harmoni antara manusia, alam, dan langit. Selain itu bagian depan rumah (pendopo) seringkali digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan keagamaan.